Jumat, 09 Desember 2011


Fenomena Pengendara Di Bawah Umur 
(Sayang terhadap anak jangan membuat nyawa melayang)


Apa yang anda pikirkan tentang pengendara kendaraan bermotor dibawah umur? Apakah anda setuju? Terlalu berbahaya ataukah tuntutan zaman? Hal tersebut tentu masih menjadi pro dan kontra dalam masyarakat Indonesia saat ini.
Fenomena pengendara motor dibawah umur sudah tidak asing bagi kita. Bahkan terkadang dianggap sebagai masalah serius yang memerlukan solusi tepat untuk menanggulanginya. Semakin bertambahnya angka kecelakaan lalu lintas dengan korban atau pelaku anak-anak dibawah umur adalah salah satu alasan diperlukannya langkah tegas oleh pihak kepolisian dalam menanggulangi hal ini.

 
Dari data yang ada pada komisikepolisianindonesia.com, jumlah pelanggaran lalu lintas tahun 2010 sebanyak 116.522, dan terjadi kenaikan pelanggaran lalu lintas pada tahun 2011 sebanyak 193.389 pelanggaran dengan prosentase kenaikan 66%. Selain itu, pelanggar dibawah umur yang notabene berumur kurang dari 16 tahun mempunyai kenaikan prosentase yang cukup tinggi yaitu dari 9277 pada tahun 2010 menjadi 15.691 pada tahun 2011 atau meningkat 69%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa masih banyak pengemudi dibawah umur yang melakukan pelanggaran lalu lintas.

Selain belum cukup umur, ada beberapa alasan anak-anak tidak boleh mengendarai sepeda motor. Antara lain, mereka belum mahir, tingkat emosional yang masih tinggi, dan tidak terkendali saat berkendara. Dan lebih parahnya, banyak pengendara dibawah umur berkendara secara ugal-ugalan, tidak memakai helm, belum mempunyai Surat Ijin Mengemudi, berboncengan 3 orang dalam satu sepeda motor, serta kerap kali melakukan pelanggaran penerobosan rambu-rambu lalu lintas.

Pengendara dibawah umur tidak bisa secara langsung disalahkan, karena mereka mempunyai alasan mengapa mereka menggunakan kendaraan bermotor yang semestinya belum mereka gunakan. Namun bila dilihat dari nilai kegunaan yang ada, seharusnya mereka dapat menggunakan kendaraan bermotor sesuai dengan fungsinya. Yang sering terjadi dalam masyarakat adalah maraknya penggunaan kendaraan bermotor untuk balapan terutama oleh remaja yang berusia dibawah 17 tahun. Hal ini dapat mengakibatkan kenaikan jumlah kecelakaan yang terjadi serta meningkatnya jumlah kriminalitas yang dilakukan anak dibawah umur.

Solusi 

Perlu diadakan langkah-langkah preventif dari masyarakat Indonesia pada umumnya dan lembaga kepolisian pada khususnya. Hal ini bisa dimulai dari tingkat keluarga, sekolah, serta masyarakat. Dan diperlukan adanya sosialisasi kepada anak dibawah umur untuk tertib hukum berlalu lintas.

  1. Sosialisasi ke Sekolah
    Pihak kepolisian harus menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah baik dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA tentang pentingnya menaati peraturan lalu lintas untuk keselamatan pribadi maupun orang lain.
  2. Memperketat Pengendara Sepeda Motor Dibawah Umur
    Memperketat pengamanan dengan melakukan razia kendaraan ke Sekolah Menengah Pertama yang notabene merupakan anak dibawah umur yang belum boleh menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu perlu diadakan operasi zebra secara berkala. Dan yang perlu diingat adalah memperketat keluarnya SIM, terutama kepada anak di bawah umur.
  3. Orangtua harus bijaksana
    Dalam hal ini, keluarga memegang peranan yang paling penting. Orangtua harus tegas menyatakan bahwa anak dibawah umur belum boleh menggunakan sepeda motor. Dan orangtua harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memberi anak fasilitas kendaraan bermotor, yaitu setelah dia cukup umur


    Upaya ini harus dibarengi dengan usaha yang nyata dan hanya bisa diperoleh dengan keuletan, kesabaran, dan ketekunan dari seluruh pihak. Hasilnya tidak akan diperoleh secara instan, tetapi bertahap hingga akhirnya menjadi lebih baik.

Categories:

1 komentar:

  1. Dulu katanya kamu masih SD udah naik motor :P
    hayoooo
    wkwkkkk
    tapi yang penting sekarang udah gedhe :D

    BalasHapus